Kompas.com/Robertus Belarminus
Tersangka pelaku mutilasi berinisial Al (32) terancam jerat
pasal 340 KUHP dengan hukuman seumur hidup atau 20 tahun penjara.
JAKARTA, KOMPAS.com — Alanshia (32) mengaku membunuh
dan kemudian memotong-motong tubuh Tonny Arifin Djomin (45) karena
sakit hati. Penyewa Ruko Aston Marina Nomor 26 D Kelurahan Ancol,
Pademangan, Jakarta Utara, ini mengatakan, Tonny kerap berkata kasar
setiap kali menagih utang. Berikut adalah kronologi pengungkapan dan
kejadian berdasarkan pengakuan sementara tersangka.
Kapolda Metro
Jaya Inspektur Jenderal Putut Eko Bayuseno mengatakan, pengungkapan
kasus berawal dari diterimanya laporan Melina Suparmi di Polsek
Penjaringan, Rabu (13/3/2013) pagi. Istri Tonny ini melaporkan suaminya
tak kunjung pulang sejak meninggalkan rumah pada Senin (11/3/2013)
sekitar pukul 09.00 WIB. "Istri korban mengetahui sang suami akan
menagih utang," kata Putut di Mapolda Metro Jaya, Jumat (15/3/2013)
petang.
Tonny mendatangi ruko milik Alanshia, Senin (11/3/2013)
sekitar pukul 20.00 WIB. Meski datang untuk menagih utang, Tonny sempat
mengonsumsi sabu-sabu bersama Alanshia, sambil berbincang di lantai tiga
ruko tersebut. Namun, setengah jam kemudian, terjadi cekcok mulut di
antara keduanya. "Tersangka mengaku sakit hati karena ada kata-kata
korban yang menyinggung," tutur Putut. Dalam keterangan awalnya,
Alanshia mengaku punya utang Rp 200 juta pada Tonny gara-gara kalah judi
bola.
Dari cekcok berujung ke jeratan tali
Ternyata cekcok terus berlanjut. Tonny menyerang Alanshia menggunakan
cutter,
sementara Alanshia balas memukul dengan segala benda di sekitarnya.
Tonny tewas setelah dijerat menggunakan tali. Sekitar pukul 21.00 WIB,
sesudah Tonny tewas, dua teman Alanshia berinisial S dan A datang ke
ruko. Kedatangan keduanya terekam kamera CCTV. Mereka ada di dalam ruko
selama sekitar 30 menit.
Menurut pengakuan Alanshia, saat dua
temannya datang, tubuh tak bernyawa Tonny dia sembunyikan di belakang
gorden. Pemotongan tubuh Tonny baru dilakukan pada tengah malam.
Pemotongan dilakukan di kamar mandi lantai tiga, menggunakan gergaji
besi, gergaji kayu, dan
cutter.
Putut mengatakan,
Alanshia juga diduga berusaha membakar potongan kepala Tonny menggunakan
las listrik. Tujuannya, menghilangkan identitas korban. Namun, langkah
itu gagal. "Kemudian potongan tubuh korban dimasukkan ke dalam koper,
dua kardus, dan lima kantong plastik," kata Putut.
Satu koper dan
dua kardus berisi potongan mayat disembunyikan di antara tumpukan karton
di gudang lantai satu ruko, sedangkan lima kantong plastik
disembunyikan di plafon gudang tersebut.
Sesudah itu, Alanshia
menghubungi sopirnya untuk melihat situasi di luar ruko, lalu dia
langsung menuju Bandara Soekarno-Hatta untuk terbang ke Surabaya, Jawa
Timur.
Penemuan mayat
Mobil Tonny adalah
petunjuk pertama. Dua teman Tonny, Ciahui dan Donna, Selasa (15/3/2013)
sekitar pukul 15.00 WIB, melihat mobil Tonny parkir di sekitar Apartemen
Aston Marina, Ancol, Pademangan, Jakarta Utara. Keduanya meminta
petugas keamanan untuk memeriksa ke ruko Alanshia. "Karena korban sempat
memberi tahu (ke istrinya) akan bertemu seseorang bernama A," tutur
Putut. Namun, mereka melihat ruko tampak kosong.
Rabu (13/3/2013),
sekitar pukul 19.30 WIB, istri dan teman Tonny kembali mendatangi ruko
Alanshia dengan ditemani petugas keamanan setempat. Saat itulah, mereka
melihat ada jejak darah. Petugas dari Polsek Penjaringan yang dihubungi
istri korban mendatangi lokasi bersama petugas dari Polsek Pademangan.
Maka,
ditemukanlah potongan tubuh di dalam tas, kardus, dan kantong plastik
begitu polisi dan petugas keamanan memasuki ruko. Selain menemukan
potongan tubuh yang tersebar di dalam gudang dan plafon ruangan itu,
polisi juga mendapatkan jejak ceceran darah dari tangga lantai satu
hingga lantai tiga, berujung di ruang kerja Alanshia.
Putut
mengatakan, berdasarkan hasil otopsi singkat pada tubuh korban,
dipastikan korban merupakan suami dari wanita yang melaporkan suaminya
hilang sejak pergi menagih utang ke tempat Alanshia. "Terdapat tato
gambar kecil tidak jelas pada bagian jempol dan telunjuk tangan kiri,
dan tato kuda laut di betis kanan, serta gigi depan palsu yang diakui
oleh keluarga sebagai ciri dari Tonny," ucap Putut.
Tertangkap karena ribut
Alanshia
tertangkap di Surabaya, Kamis (14/3/2013). Bukan melulu karena ada
penyidikan dan pelacakan. Karena Alanshia, yang berkewarganegaraan
asing, tak bisa berbahasa Inggris, apalagi bahasa Indonesia, dia sempat
terlibat keributan dengan warga. Polisi dari Polsek Dukuh Haji yang
melintas langsung mengamankan Alanshia.
Sudah menjadi prosedur
polisi untuk langsung memeriksa warga negara asing, apalagi yang tak
beridentitas. Saat itu, Alanshia memang sama sekali tak mengantongi
identitas, yang semuanya dia tinggalkan di ruko. Dari pemeriksaan inilah
diketahui bahwa Alanshia sedang dicari terkait kasus pembunuhan dan
mutilasi di Ancol, Jakarta Utara. Setelah ada koordinasi dengan polisi
di Jakarta, Alanshia tiba kembali di Jakarta, Jumat (15/3/2013) pagi.
Sementara
itu, penyidikan di lokasi pembunuhan mendapatkan beragam alat bukti.
Tak hanya alat-alat yang diduga dipakai sebagai senjata dan peralatan
membunuh maupun memotong korban, ditemukan pula dua cincin dan beragam
jenis narkoba di sebuah brankas.
Polisi menyebutkan, narkoba yang
ditemukan di brankas itu adalah 656 gram key (narkoba turunan kokain,
red), 140 pil yang belum diketahui jenisnya, 32,35 gram sabu-sabu, dan
60 gram serbuk putih yang belum diketahui jenisnya. Bersama obat-obatan
terlarang itu juga ditemukan plastik, timbangan, dan gelas ukur.
Alanshia
mengaku kepada polisi, ia menjual narkoba atas suruhan Tonny untuk
melunasi utang Rp 200 juta dari kekalahannya di judi bola itu. Namun,
menurut Alanshia, Tonny masih akan menyita BMW X5-nya, yang harganya
jauh di atas nilai utang.
Polisi masih terus mendalami keterangan
tersangka, sekaligus mengumpulkan beragam bukti dan saksi. Untuk kasus
pembunuhan Tonny, Alanshia terancam terjerat pasal pembunuhan berencana,
yang ancamannya sampai hukuman mati. Sementara untuk temuan narkoba,
judi bola, dan keberadaannya sendiri di Indonesia, polisi masih harus
berupaya menyibak cerita yang sesungguhnya.
Berita terkait dapat dibaca dalam topik:
Mutilasi di Ancol
Editor :
Palupi Annisa Auliani